Harimau Sumatera Mengamuk di Pinggiran Kota Bukittinggi, Jumlah Korban…

Bagikan

HaloSumbar.com – Selama 10 bulan mengamuk, harimau Sumatera terus menebar teror di pinggiran Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Si belang tercatat melintasi wilayah Kabupaten Agam yang mengitari kota wisata itu, mulai dari kawasan perbatasan hingga pedalaman. 

Sejak 27 September 2016 sampai 8 Juli 2017, sudah 23 ekor kerbau, 41 ekor anjing, dan 2 ekor kambing peliharaan penduduk yang diterkam “Inyiak Balang”.

Satwa Harimau

Satwa Harimau di TMSBK Kota Bukittinggi, Sumatera Barat

Petugas BKSDA Sektor Bukittinggi, AA Jusman kepada HaloSumbar.Com Jumat (21/7/2017) menyebut, konflik antara harimau Sumatera di wilayah Kabupaten Agam sudah terjadi sejak 10 bulan terakhir.

Dimulai dari kawasan Pauah, Nagari Kamangmudiak, Kecamatan KamangMagek pada 27 September 2016. Kala itu, harimau menerkam 2 ekor kerbau (satu diantaranya mati) dan 7 ekor kambing.

Belum genap sebulan setelah serangan itu, tepatnya 13 Oktober 2016, harimau Sumatera mengamuk di kawasan Mudiaklupuah, Nagari Kotorantang, Kecamatan Palupuah. Harimau menerkam satu ekor anjing peliharaan penduduk.

Pada saat bersamaan, di kawasan Tilatangkamang, persisnya di Bukik Gadang, Nagari Kototangah, harimau juga menerkam 20 ekor anjing plus 2 ekor kerbau (satu diantara kerbau itu mati).

Harimau Sumatera

Peta Sebaran Konflik Satwa Harimau Sumatera

Serangan harimau secara beruntun pada hari yang bersamaan itu membuat warga panik. Petugas BKSDA Sektor Bukittinggi juga turuntangan berupaya menghalau harimau kembali masuk hutan.

“Upaya ini sedikit mangkus. Tapi pada 10 Februari 2017, harimau kembali mengganas, dengan menerkam 7 ekor anjing di kawasan Sonsang,” katanya.

Dari kawasan Songsang itu pula, lanjutnya, harimau diduga berputar ke kawasan Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan. Di kawasan ini, pada 22 Februari 2017, harimau Sumatera menerkam 3 ekor kerbau hingga mati.

Tak hanya di Marambuang, pada hari itu pula, kawanan harimau juga menerkam 3 ekor kerbau di kawasan  Sungaibuluah, Nagari Tigobalai, Kecamatan Matur.

Warga bersama petugas BKSDA lagi-lagi berupaya menghalau harimau-harimau itu, termasuk dengan bunyi-bunyian meriam. Akan tetapi, harimau makin mengganas.

Pada 7 Maret 2017, satwa yang terancam punah itu kembali menerkam seekor kerbau di kawasan Marambuang, hingga membuat kerbau itu luka-luka. Sepekan kemudian, persisnya 15 Maret 2017, binatang yang dilindingi Undang-Undang ini menerkam seekor kambing di Palembayan Tangah.

Dua hari berikutnya atau 17 Maret 2017, harimau diperkirakan berpindah ke kawasan Batang Palupuah, dengan menerkam seekor anjing penduduk setempat.

Lalu, pada 3 Juli 2017, harimau itu berpindah ke kawasan Sitingkai dengan menerkam 5 ekor anjing dan 1 ekor kerbau, hingga peliharaan penduduk itu mati seluruhnya.

Kemudian, pada 8 Mei 2017, harimau Sumatera yang punya warna paling gelap diantara semua subspesies harimau di muka bumi, dilaporkan mengamuk di Jorong PGRM, Kecamatan Tilatangkamang. Harimau menerkam 11 ekor kerbau (5 diantaranya mato dan 6 lainnya luka).

Terakhir, pada 8 Juli 2017, harimau Sumatera mengamuk di kawasan Sitingkai, dengan menerkam seekor kerbau dan lima ekor anjing.

“Kami berharap warga sekitaran Bukittinggi dan Agam menjadikan ini pelajaran. Menghindari amukan harimau yang diduga belajar berburu itu, warga diminta untuk tidak membiarkan hewan ternak dilepas berkeliaran. Jangan pula membabat hutan secara ilegal karena dapat merusak habitat hewan buas ini,” kata Jusmar. (HS/Oneal-UP)

Related Posts